BENTROK DESA LONGGAR – DESA APARA TELAN KORBAN JIWA, BUPATI DAN KAPOLRES BERGEGAS CARI SOLUSI

Dobo, AINews.com – Bupati Kepulauan Aru, Maluku, Timotius Kaidel, bersama Kapolres Kepulauan Aru dan jajaran, mengambil langkah cepat, turun ke lapangan di lokasi konflik, mengajak masyarakat kedua desa, dan tokoh masyarakat, serta tokoh agama dan tokoh pemuda, “duduk di atas tikar”, menggelar dialog antar kedua desa yang bentrok, Desa Longgar dengan Apara, yang menelan korban jiwa.
Dalam budaya orang Aru, Duduk di atas tikar, merupakan salah satu nilai budaya yang dianut secara turun-temurun, dengan filosofi “Semua Orang Setara di mata hukum adat, hukum agama, dan hukum pemerintah, sehingga dalam kesetaraan dan persaudaraan, semua masalah, baik masalah kecil atau masalah besar, bisa dibicarakan dalam tatanan hidup orang bersaudara”.
Duduk di atas tikar, dilakukan dalam bentuk, menggelar tikar di atas lantai atau atas tanah, didoakan secara adat budaya atau agama, kemudian pihak yang dipercaya sebagai orang tengah, tampil sebagai pemimpin upacara budaya, memimpin secara adil dan bijaksana, memandu para pihak untuk menyampaikan keluh kesah, kemudian mengambil kesimpulan dan keputusan untuk keadilan semua pihak tercapai. Budaya ini biasanya ditutup dengan saling berpelukan dan berdamai antar pihak.
Bupati Kepulauan Aru, Maluku, Timotius Kaidel, kebetulan, terlahir sebagai Putra Pulau Koba, Kecamatan Aru Tengah, Pulau dimana antara Kelompok Adat Urlima dan Kelompok Adat Ursia, dibagi dua di Pulau Koba. Dalam kepercayaan masyarakat adat lokal Kepulauan Aru, Orang Koba, dianggap dan dihormati sebagai Orang Tengah, yang selalu dengan senang hati, melayani masyarakat yang singgah di Pulau Koba, baik masyarakat dari Urlima, maupun Ursia. Kehadiran Bupati Timo saat ini di lapangan, lokasi konflik, merupakan langkah tepat, dan solutif.
Kehadiran Bupati Timo, Bersama Kapolres Kepulauan Aru, AKBP. Albert Perwira Sihite, serta aparat kepolisian dari Polres Aru serta Polsek Aru Tengah Selatan ini yang melakukan tugas pengamanan, Jumat (2/1/2026) ini, disambut baik oleh masyarakat kedua desa, mengingat hubungan antara Desa Apara, Desa Longgar, dengan Orang Koba, selain –tentunya– dalam kapasitas sebagai Pimpinan Daerah Kabupaten Kepulauan Aru. Ini juga menjadi titik awal yang menandai pertama dalam sejarah Aru, ada Bupati Aru yang turun ke lapangan untuk ikut bersama masyarakat cari solusi saat konflik.
Acara duduk di atas tikar ini digelar, menyusul, konflik yang terjadi antara Masyarakat Desa Longgar dengan Masyarakat Desa Apara, Kecamatan Aru Tengah Selatan yang menelan korban jiwa dan harta benda, yang terjadi pada pagi hari Kamis (1/1/2026). Dalam bentrok tersebut, dua orang dilaporkan meninggal dunia terkena anak panah, dan beberapa lainnya mengalami luka ringan hingga luka parah, yang kemudian dirawat di Puskesmas Desa Longgar, serta beberapa lainnya dilarikan ke RSUD Cenderawasih Dobo, di Ibukota Kabupaten Kepulauan Aru.
Turut dalam rombongan Bupati Timo bersama Kapolres, Kepala Dinas Perumahan dan Pemukiman Kepulauan Aru, Camat Aru Tengah Selatan, dan disambut Kepala Desa Longgar dan Apara, Tokoh-tokoh masyarakat, dan Ketua Majelis Jemaat Gereja Protestan Maluku (GPM) Longgar Apara, Pendeta Yapi Thenu, S.Si., M.M., langsung meninjau lokasi kejadian bentrok, melihat langsung situasi korban di beberapa titik, sebelum akhirnya menggelar dialog.
Untuk diketahui, Kedua Desa ini, hanya dibatasi oleh rumah terakhir di Desa Longgar, dengan Rumah terakhir di Desa Apara, merupakan batas yang membedakan keduanya. Dan, sudah terjadi kawin mawin antar sesama warga kedua desa. Hubungan kedua desa selama ini baik-baik saja. Mereka memiliki satu gereja, baik gereja Protestan yang berada di ujung akhir Desa Longgar, juga gereja Katolik. Karenanya, gereja protestan di kedua desa ini, disebut Jemaat GPM Longgar-Apara.
Pada kesempatan ini Bupati Timo juga sempat menghimbau kepada masyarakat untuk senantiasa jaga perdamaian antar sesama keluarga bersaudara.
“Kami datang untuk memberikan dukungan, dan hendak memperoleh informasi benar seputar masalah ini, dan situasi saat ini. Kami berharap, semua masyarakat kedua desa bisa menjaga ketenangan dan kedamaian, serta menghindari upaya-upaya provokasi serta tindakan yang memperburuk keadaan”, ujar Kaidel.
Bupati Timo juga berkesempatan memerintahkan Kepala Dinas Perumahan dan Pemukiman Kepulauan Aru serta Kepala BPBD Aru bersama jajarannya melakukan pendataan terhadap seluruh kerugian materil yang ada, untuk kemudian diupayakan penyelesaiannya.
Hingga berita ini naik, kondisi keamanan sudah kondusif, dengan tetap dijaga aparat kepolisian di pertengahan batas antara kedua desa, sambil terus mengintensifkan upaya persuasif antar masyarakat. (AINews_01)
Tim Redaksi


Topik

Terkait

Grid

Infografis














Tinggalkan Balasan